Marketplace Facebook Akan Jadi Saingan Bukalapak
(Foto: pixabay.com)

Seiring waktu semua sosial media yang ada di dunia ini berubah. Ada yang cuma mengubah interface, menambah fitur tertentu, bahkan ada yang mengubah fungsi sosial media itu sendiri. Hal ini bukan nggak mungkin dilakukan lantaran teknologi semakin kesini semakin canggih.

Terutama Facebook. Siapa yang nggak kenal aplikasi besutan Mark Zuckerberg yang satu ini? Aplikasi yang pada saat peluncurannya langsung menuai prestasi dan tentunya juga cuan. Awalnya aplikasi ini pure sebuah sosial media yang revolusioner. Dengan fitur chat, grup, berbagi status, bahkan berbagi foto dan video.

Seiring berkembangnya dan bertambahnya pengguna Facebook, terutama di Indonesia. Banyak akal yang dilakukan masyarakat +62 di aplikasi berwarna biru itu. Mulai dari cari jodoh sampai jualan onderdil motor dan HP. Ya, karena Facebook terbilang bebas, pengguna pun bisa leluasa menggunakannya buat apa aja.

Dengan ide-ide yang muncul dari perilaku penggunanya itu, Facebook menambah fitur marketplace. Ya, fitur yang menurut saya menjadi satu-satunya hal yang membuat pengguna milenial bertahan di Facebook. Soalnya mau gimana lagi? Twitter udah mulai populer dan Instagram mulai menunjukan taringnya.

Pengalaman saya sendiri, Facebook hanya digunakan untuk melihat barang-barang second yang dijual di sekitar saya. Bahkan, iPhone SE yang saya gunakan saat ini dibeli dari marketplace Facebook. Munkin barang-barang lainnya pun akan dibeli di sana suatu saat nanti.

Hal ini sudah jelas mirip dengan marketplace komersial lainnya. Bukalapak misalnya, mereka hampir sama seperti marketplace Facebook. Banyak pengguna perorangan yang berjualan, bahkan banyak juga barang second yang dijual. 

Satu hal yang bikin pengguna bertahan menggunakan Facebook adalah fitur kenangan. Setelah berjalan beberapa tahun dan beberapa purnama menggunakan Facebook, tak ada lagi yang bisa dilakukan selain melihat kenangan masa lalu. Baik saat ketika masa-masa culun dengan rambut emo, atau masa sekolah dengan cinta monyetnya.

Jarang sekali pengguna Facebook milenial, yang sudah lama menggunakannya buat rutin update status. Paling sekadar mengganti foto profil dan foto sampil. Story pun diisi karena tertaut dengan Instagram, sungguh sangat terasa akhir dari riwayat Facebook.

Sebentar lagi, Facebook akan menjelma menjadi marketplace berbasis lokasi yang memudahkan seseorang untuk berniaga. Bukalapak akan kebakaran jenggot dan merasa tersaingi dengan Facebook. Jelas! Akan terjadi persaingan antara marketplace sosial media dan marketplace komersial. Ini bukan nggak mungkin, cepat atau lambat pasti terjadi!

Kalau Facebook berhasil mengembangkan marketplacenya, bagaimana nasib Bukalapak? Tentunya, Bukalapak nggak akan langsung tenggelam begitu saja. Perlu waktu bagi Facebook buat mengubah apa yang sudah menjadi pakemnya yaitu sosial media. Tapi, saya ngerti orang-orang Facebook itu kreatif, jadi pasti akan ada hal-hal yang out of the box yang nggak akan terpikirkan sebelumnya.

Bukalapak perlu mengencangkan ikat pinggang. Sebagai marketplace buatan anak bangsa, jangan mau kalah sama buatan luar negeri. Meskipun, sekarang pun Bukalapak cukup tertekan dengan duo Tokopedia dan Shoppee.

Makanya, Bukalapak perlu memutar otak supaya bisa bikin pola yang fleksibel kayak marketplace Facebook. Curi start dan selangkah lebih maju. Karena kita tahu sendiri sifat Mark Zuckerberg, ada yang bagus dikit dibeli olehnya.

Kebayang kalau Bukalapak dibeli oleh Facebook. Bisa-bisa ekosistem ekonomi digital di Indonesia tertekan oleh negara asing. Walaupun ya cuannya juga menguntungkan buat Bukalapak agar lebih berinovasi lagi.

Sebagai penikmat teknologi, saya tidak keberatan jika Facebook memiliki marketplace dengan pola berbasis lokasi yang mumpuni seperti sekarang ini. Tapi, sebagai warga Indonesia rasanya berat kalau pasarnya direbut orang lain.

Kalau mengandalkan pemerintah soal teknologi rasanya susah-susah gampang. Emangnya kenapa? Banyak website milik pemerintah yang down karena servernya nggak kuat, itu sudah menunjukan bahwa biaya yang dikeluarkan untuk penunjang teknologi memang rendah. Atau malah dipotong, hehehe.

Kita ingat ketika PPDB tahun lalu yang servernya sering error. Pengunjung aplikasi membludak dan akhirnya harus mengantre di waktu-waktu tertentu. Ya, itulah Indonesia. Teknologi ingin bagus tapi harganya pengen murah.

Mungkin sudah saatnya orang-orang cerdas di Indonesia bangkit. Membawa teknologi untuk membangun bangsa. Ya, pakai biaya sendiri saja dulu, karena saya yakin pemerintah nggak akan mau bayar.