Disiplin waktu itu perlu
(Foto: pixabay.com)

Waktu adalah uang, itulah kalimat yang katanya bisa jadi motovasi agar bisa memanfaatkan waktu lebih baik, efektif, dan efisien. Namun, kenyataanya tidak semudah itu ferguso. Di era yang serba cepat ini, orang-orang seolah lupa bahwa mereka punya waktu dan pekerjaan. Semua karena teknologi dan internet.

Sejak kecil kita selalu diajarkan oleh orang tua agar tidak telat sekolah, tepat waktu untuk pulang, tidur tidak terlalu malam, dan makan teratur. Tapi, setelah dewasa sepertinya hal-hal itu sulit dilakukan bahkan oleh orang terkuat di muka bumi. Padahal, orang tua kita sudah mewanti-wanti sejak kecil agar waktu yang ada bisa dimanfaatkan dengan baik.

Sudah banyak buku yang mengajarkan bagaimana agar bisa hidup produktif dan disiplin waktu. Bahkan, sudah banyak aplikasi-aplikasi yang bisa membantu kita buat mengatur agenda harian. Tapi, untuk melaksanakannya pasti ada saja gangguan yang menghampiri, apalagi kalau sudah berhubungan dengan HP, ada saja notif yang masuk.

Banyak jenis-jenis gangguan buat kita-kita yang lagi belajar disiplin waktu. Salah satunya adalah ajakan nongkrong, ketika waktu sudah menunjukan pulul 10 malam misalnya, dan kita pun memiliki jadwal untuk segera tidur agar bisa bangung pagi. Tapi, sungguh nahas teman-teman ngajak nongkrong, mau nolak nggak enak, mau ikut malah ganggu agenda.

Cara yang tepat untuk menghindarkan gangguan tersebut adalah dengan bersikap tegas terhadap diri sendiri. Berani membatasi diri dan bilang tidak kepada orang-orang yang ngajak gadang cuma buat ngerokok dan minum kopi. Walau pun nggak enak, tapi itu bagus buat disiplin waktu diri sendiri.

Bagaimana jika teman kita yang ngajak nongkrong itu nggak paham? Yang namanya teman pasti bisa memahami situasi dan kondisi sesama, dong. Nggak mungkin ada sahabat yang egois dan cuma mau enak sendiri. Kalau nemu temen yang cuma mau enak sendiri mending buang aja tuh kelangit. Atau kasih video viral “Katanya kawan.”

Gangguan lainnya yang bikin disiplin waktu kita semakin nggak mashok adalah menunda kerjaan. Kalau kita dari pagi sampai sore menunda pekerjaan, akhirnya kerjaan itu harus dikerjakan malam hari. Ini sungguh budaya yang Indonesia banget, selagi bisa dikerjakan nanti kenapa harus dikerjakan sekarang?

Padahal, hal-hal kayak gitu yang malah bikin disiplin waktu kita semakin njelimet. Lebih baik kita bikin agenda dan kerjakan pekerjaan sesuai waktunya secara perlahan. Kalau gitu caranya kita nggak harus bawa-bawa kerjaan ke rumah dan harus begadang cuma buat beresin kerjaan yang harusnya bisa selesai dari siang.

Nah, kalau semua kerjaan bisa dilakukan secara tepat waktu, otomatis kita akan mendapatkan waktu luang yang lebih banyak. Lantaran biasanya kita itu kalau malem-malem suka buka YouTube atau nonton drama, eh tahu-tahu tengah malem. Kalau kita sudah punya waktu luang sejak sore, kita bisa puas-puasin hiburan sampai waktu tidur tiba.

Cuma, seperti apa yang saya tulis di judul, hal itu sangat sulit untuk dilakukan. Bahkan oleh orang terkuat di muka bumi sama sekali. Orang-orang sukses di dunia bisa melakukan disiplin waktu dengan baik, bahkan ada yang tidurnya cuma tiga jam karena padatnya jadwal. Mana bisa kita yang masih suka nongkrong ini melakukan hal kayak gitu?

Kita bisa baca buku pengembangan diri yang menjelaskan pentingnya disiplin waktu, sampai menggunakan aplikasi yang bisa bantu bikin agenda harian. Pastikan agenda itu selesai pada waktunya, jangan cuma jadi pajangan dan khayalan. Percuma pengen disiplin waktu tapi nggak bisa melaksanakannya ya bohong.

Ya, yang namanya usaha tetap harus dilakukan. Jangan sampai kita pengen sukses tapi nggak melakukan hal-hal yang dilakukan orang sukses. Kalau di karakter kartun, paling tida kita bisa contoh sifat SpongeBob yang selalu semangat melewati hari-harinya. Bahkan, cuma telat semenit pun dia nangis kejer.

Walaupun kita-kita ini menganggap Squidward adalah cerminan yang paling realistis, tapi hal itu nggak akan bisa bikin kita sukses. Disiplin waktu perlu stabilitas emosi yang tinggi, jangan dikit-dikit lihat sosmed, dikit-dikit mabar, mau jadi apa kita nanti? Pemain klarinet? Atau kasir restoran burger di Bikini Bottom?