Berpikir positif bisa berbahaya
(Foto: pixabay.com)

Hidup itu dinamis, lur. Kadang ada di atas, kadang ada di bawah, tapi kita ini selalu saja berpikir bahwa suatu saat kita akan berada di atas walaupun sedang berada di bawah. Bahkan tidak sedikit motivator atau influencer bilang ke pendengarnya buat tetap berpikir positif dan optimis di setiap masalah yang datang dalam hidup.

Bagus, sih. Sifat positif dan optimis bisa jadi acuan buat kita agar nggak cepet nyerah dan down ketika usaha bangkrut, nilai kuliah jeblok, atau kena Covid-19. Tapi, kok rasanya nggak seimbang kalau kita nggak memikirkan hal negatif dan sesekali pesimis sama masalah hidup. Padahal, itu bisa membantu kok daripada ngehalu dapet duit Rp1 miliar.

Tapi, berpikir negatif dan pesimis berlebihan juga nggak baik. Sama kayak suara warganet yang terus nyalahin media karena banyak ngeberitain soal Covid-19. Mereka beranggapan berita kayak gitu malah nakut-nakutin. Tapi, kadang pembaca ini lupa buat berpikir positif dan optimis. Artinya, positif dan negatif itu harus seimbang di otak kita ini.

Hal yang berlebihan memang nggak baik, lur. Sama kayak mikirin gebetan, kalau kita mikir doi bakal jadi pacar kita ya belum tentu juga bakal jadi. Sama kayak kalau kita mikir doi nggak bakal jadi pacar kita, ya bisa jadi malah jodoh. Makanya, usaha dan doa itu perlu. Jangan cuma ngehalu yang nggak jelas dan nggak perlu.

Berpikir positif berlebihan ini dampaknya udah kebukti di beberapa hal. Nokia contohnya, dulu perusahaan ponsel itu jadi rajanya hape seantero dunia. Siapa yang nggak bangga pakai Nokia 6600 yang kalau disakuin kayak masukin batu ke kantong celana. Tapi, Nokia ini terlalu berpikir positif dan optimis pada masalah yang muncul.

Ketika orang-orang mulai pindah ke Android dan iOS, Nokia tetap optimis dan positif bahwa produk merek bakal jadi idaman. Eh, nggak nyampek. Malah Nokia kegiles sama produsen hape kayak Samsung dan iPhone, baru sekarang ini Nokia ngeluncurin hape Android. Orang lain udah kering, dia baru nyemplung.

Contoh lain juga muncul di perusahaan Kodak Film. Bayangin, usia 130 tahun berbisnis di dunia film fotografi harus hancur gara-gara terlali berpikir positif dan optimis. Ketika kamera digital menjamur, mereka nggak berpikir negatif dan pesimis, akhirnya bangkrut di tahun 2012. Sungguh terlalu!

Makanya berpikir positif dan optimis kadang membahayakan. Ada suatu ketika kita harus berpikir negatif dan pesimis. Contohnya, ketika kita berada di puncak kesuksesan, sesekali kita harus pesimis karena suatu saat akan ada masalah muncul. Dari situ, kita mulai mikirin caranya menghadapi masalah secara efektif.

Siapa yang nggak kenal Bill Gates? Blio ini pernah bikin memo mimpi buruk yang menggamparkan skenario terburuk dalam bisnisnya. Bayangin, blio bikin memo itu ketika Microsoft lagi naik-naiknya. Itu artinya Bill Gates juga sesekali berpikir negatif dan pesimis biar dapet analisis untuk masalah yang akan datang di masa depan.

Makanya, hidup itu harus kayak Yin dan Yang. Seimbang. Jangan cuma berpikir positif tapi juga berpikir negatif. Ketika kita berada di puncak karier, pikirin masalah yang akan datang. Ketika ada berita bahaya Covid-19, jangan terlalu optimis, pikirin pencegahannya. Lah, ini malah tiba-tiba bikin teori konspirasi yang nggak jelas arahnya.

Jangan kayak pemerintah, terus aja optimis bisa mengendalikan Covid-19 dan berpikir positif bahwa semua akan baik-baik saja. Tapi, nggak mikirin skenario terburuk kalau Covid-19 melonjak tinggi. Akhirnya, tiba-tiba bikin kebijakan dadakan yang segala penerapannya pun serba mendadak dan bikin masyarakat kejang-kejang.

Ya, namanya iuga Indonesia. Kalau nggak telat ya setengah-setengah nanganin isu sosial. Kalaupun PPKM Darurat diperpanjang jadi 6 minggu. Nggak ada artinya kalau penerapannya nggak mateng. Sekarang, malah minta rumah sakit khusus pejabat, untuk masyarakat aja udah mulai penuh. Sungguh indah negeri ini.