Pelajar yang Tidak Gemar Membaca Akan Tertinggal

Di era serba canggih ini, pelajar tidak bisa dijauhkan dari gawai dalam setiap kegiatannnya, mulai dari mencari informasi, belajar, sampai hiburan. Terlebih, di masa pandemi Covid-19 dengan pemberlakuan belajar dalam jaringan (daring) ‘memaksa’ pelajar untuk menggunakan gawai dalam belajar. Tapi, masih sedikit yang memahami soal literasi digital, atau bahkan literasi baca tulis itu sendiri. Sebab, dari pengalaman saya, kegiatan membaca hanya disukai segelintir pelajar saja. Berarti, butuh evaluasi dari berbagai pihak soal itu.

Pelajar perlu memiliki kesadaran literasi baca tulis. Sebab, di zaman yang terus berjalan dengan cepat ini, berbagai penemuan, inovasi, dan teknologi semakin berkembang setiap waktu. Maka, perlu penyesuaian dari pelajar dalam menghadapi hal ini, yaitu dengan membaca setiap hari. Dengan membaca, pikiran pelajar akan terbuka, bukan hanya pada buku pelajaran dan kurikulum yang tengah berjalan, tapi dunia luar yang tengah berkembang.

Kini, membaca berita bisa dilakukan dengan sangat mudah. Melalui internet, kita bisa membaca berita, mulai dari tingkat lokal, regional, nasional, sampai internasional. Namun, perlu pemahaman dari para pelajar untuk memilih berita yang dibaca agar terhindar dari hoaks. Caranya adalah melakukan verifikasi dua tahap layaknya pengamanan akun Google dan sosial media lainnya. Contohnya, ketika membaca suatu berita, kita harus membaca secara utuh dari awal duduk permasalahan hingga akhir, dari judul hingga ekor berita. Lalu, melakukan verifikasi dua langkah dengan melakukan hal serupa dari sumber yang berbeda.

Kini, pelajar harus selektif dan skeptis terhadap suatu informasi. Selektif dalam memilih sumber informasi dan selektif dalam memilih informasi yang bermanfaat. Lalu, skeptis untuk tidak mudah percaya pada informasi liar di sosial media dan skeptis untuk tidak mudah percaya sebuah berita dari judulnya saja.

Jika sudah memahami hal-hal itu, pelajar harus mempraktikannya setiap hari. Dengan membaca setiap hari, pelajar akan terus update dan tidak tertinggal zaman. Jadi pelajar yang paling tahu segala informasi, memahami berbagai persoalan di lingkungan sekitar. Dengan demikian, akan sangat mudah bagi pelajar menerapkan berbagai ilmunya di sekolah di lingkungan pertemanan dan keluarga.

Selain membaca buku, pelajar benar-benar perlu rajin membaca buku. Semua orang tahu kalau membaca buku adalah membuka jendela dunia. Maka, pelajar perlu membaca buku agar lebih memahami dan mengetahui apa yang terjadi di dunia ini di masa lampau, kini, dan nanti. Buku adalah sarana yang tempat untuk terus meningkatkan kecerdasan dan pengetahuan, buku apapun itu.

Pelajar yang Tidak Gemar Membaca Akan Tertinggal

Namun, banyak yang beranggapan kalau buku terlalu mahal untuk dibeli. Benar, memang benar. Dulu saya membeli buku itu harus nabung uang hasil menulis di Majalah ISMA, baru bisa membeli buku. Kini, buku bisa dibaca melalui gawai atau ponsel. Tapi, kita perlu paham cara agar bisa membaca buku secara legal.

Pertama, kita bisa membeli buku digital di aplikasi Google Play Book, biasanya buku digital beberapa persen lebih murah daripada buku cetak. Tentunya legal untuk dibaca, kita tidak mau zalim kan dengan membaca karya orang lain tapi tidak menghargai jerih payah penulis dan penerbit. Pelajar bisa menyisihkan sebagian uang jajan agar bisa membeli buku cetak atau digital.

Kedua, meminjam buku digital melalui aplikasi iPusnas. Aplikasi tersebut dibuat oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) RI dengan buku-buku yang ada di Perpustakaan Nasional RI dengan format digital. Waktu pinjaman buku digital di aplikasi iPusnas hanya bisa selama tiga hari, jika melewati batas itu, buku yang kita pinjam akan otomatis dikembalikan, tapi kita bisa meminjamnya kembali.

Ketiga, rajin membaca dan meminjam buku di perpustakaan sekolah. Dulu, saya rajin meminjam buku ketika sekolah di MAN 1 Cianjur, sampai suatu saat saya meminjam satu buku selama satu semester dan lupa mengembalikannya. Tapi, alhamdulillah pustakawati saat itu baik hati dan tidak memberi denda. Jangan ditiru, ya. Tiru saja yang rajin baca dan pinjam buku di perpustakaan.

Dengan rajin membaca buku, pelajar bisa mengetahui berbagai hal di luar pelajaran yang diajarkan di sekolah. Dengan demikian, pelajar tidak hanya mandek pada beberapa ilmu saja. Tapi, bisa dikembangkan dengan pengetahuan umum lainnya, seperti kerajinan, teknologi, psikologi, filsafat, sejarah, dan lain sebagainya yang memang tidak diajarkan di sekolah.

Sekali lagi, saya tekankan bahwa pelajar yang tidak rajin membaca akan tertinggal. Tertinggal dalam hal apa? SEGALANYA! Kok bisa? Teman-teman pelajar akan merasakannya ketika lulus sekolah nanti. Jadi, rajinlah membaca buku dan berita, setiap hari. Agar pengetahuan kita bertambah dan terus diperbaharui. Manfaat itu akan datang tidak pada waktu yang singkat tapi di masa depan, ketika kita sedang berproses menjadi orang yang besar.

Comments

Popular Posts