Ketika Merasa Dunia Tidak Berpihak Pada Kita

Dalam hidup kita tidak akan pernah merasakan hal yang mulus selamanya. Terkadang kita berada dalam jurang kekecewaan paling dalam, kadang kita berada di atas awan kesuksesan tertinggi. Itu semua wajar dalam hidup yang kita ketahui seperti roda yang terus berputar. Sayang, terkadang semua cobaan dalam hidup bisa membuat kita sedih dan putus asa, seolah dunia telah berakhir sudah. Tak ada kesempatan apa pun untuk bisa memulai kembali atau memperbaiki.

Ketika kita merasa dunia tidak berpihak pada kita, bukan berarti kita tidak punya apa-apa. Jika kita percaya bahwa Allah tidak akan memberikan cobaan di luar kesanggupan hambanya, seharusnya kita sadar bahwa akhirat adalah keberpihakan paling ampuh dari pada dunia. Meski, hal itu sulit untuk dibiasakan, hati akan sulit menerima, tapi dengan keyakinan pada Maha Pencipta, tak ada yang tidak mungkin.

Kita hidup di dalam dunia fana yang kadang tidak jelas arahnya mau ke mana. Terombang-ambing oleh berbagai sudut pandang dan persepsi manusia. Ditekan oleh gengsi dan reputasi yang katanya perlu dijaga. Terkadang, kita berpihak pada A, kemudian berpihak pada B. Semua hal tertuju pada materi, tapi kemiskinan tetap melanda pada jiwa-jiwa yang miskin ketenteraman hati.

Malam ini, tidak ada yang paling sejuk selain menikmati keheningan, mengalir bersama pikiran yang hingga kini bimbang. Berkali-kali menyebut nama Tuhan demi menenangkan diri, tak ada yang mustahil. Segala hal sudah diatur dengan sangat apik. Kita hanya perlu menyiapkan berbagai persiapan menuju garis finis, kematian.

Ketika kita merasa dunita tidak berpihak pada kita, ego bergejolak dengan akal sehat yang terus berputar-putar. Siapa yang salah, siapa yang benar. Memang sepatutnya kita banyak bertanya agar banyak tahu, terlebih biar tidak dibilang sok tahu. Tapi, apakah berdosa diri ini merasa begitu banyak yang membuat bimbang, membuat bingung, membuat tidak enak hati dalam menjalani hidup?

Ketika Merasa Dunia Tidak Berpihak Pada Kita


Dalam perjalanan meraih kebenaran, kita dihadapkan pada pilihan yang begitu berat untuk dipikul, berat juga untuk dipertanggungjawabkan. Terus bertanya apakah tindakan kita salah atau benar. TIdak bisa tidur dan bernafas dengan tenang, seolah raga tak mampu lagi menopang beban-beban psikologis yang membingungkan.

Setiap manusia terluka dan bahagia. Tapi, hanya segelintir manusia yang konsisten. Retorika seakan senjata ampuh dalam mengendalikan, membawa berbagai sudut pandang, dan dalil. Tapi, lumpuh pada implementasi yang sepatutnya dikerjakan. Bingung? Sama, saya begitu bingung. Dipaksa untuk memahami tapi begitu tidak enak hati, pada Tuhan.

Seperti apa yang diamanatkan KH Ahmad Dahlan; akal, hati, dan perbuatan harus selaras. Dengan sesederhana itu, membuatku hanya ingin menjadi orang baik. Bukan orang pintar. Tapi, bisa saja amanat itu diselewengkan; akal, hati, dan perbuatan selaras pada kejahatan dan keburukan. Hal itu tidak mustahil, demi kepentingan, demi pribadi, demi ambisi, apa pun pasti diraih.

Setiap manusia kadang membodoh-bodohkan manusia lainnya. Ada pula yang mempintar-pintarkan manusia lainnya. Kita hanya bisa muhasabah pada setiap persoalan yang menjadikan kebingungan dalam diri kita. Manusia, adalah sumber dari segala hal yang baik dan buruk, bodoh dan pintar. Tapi, sedikit yang merasa jujur dan amatir. Semakin bertambah usia, semakin sulit menganggap hidup ini bercanda.

Ktia semua hamba sahaya yang mengemis belas kasih pada Tuhan Yang Maha Esa. Tapi, tak sedikit yang tidak tahu diri. Setiap manusia memang harus saling menghargai, tetapi diharuskan Amar Makruf Nahi Munkar. Namun, kini beberapa di antara kita harus bungkam, diam, dan bersembunyi. Dari tangis hati, melihat diri sendiri yang masih penuh dosa. Berkaca pada segala hal di dunia, usaha kita hanya perlu tawakkal.

Comments

Popular Posts