Cinta, bagaimana kamu memaknai kata itu sebagai sebuah perasaan? Sulit? Tak bisa dimengerti? Atau tidak memilikinya?

Setiap orang butuh cinta dalam hidupnya untuk tetap merasakan hakikat manusia sebagai mahluk paling sempurna di jagat raya ini. Berinteraksi, saling mengisi kekosongan dalam hidup adalah bagian dari cinta.

Apakah memarahi dan membentak bisa diartikan sebagai cinta? Tergantung bagaimana kamu memaknainya. Bisa iya, bisa tidak. Jika cinta ada dalam hati, semua yang negatif selalu memiliki hasil yang positif.

Kita harus membentak seorang penjahat karena perilaku buruknya, agar dia sadar untuk tidak mengulanginya. Itu cinta. Kita harus memarahi seorang anak yang kelewat kurang ajar terhadap orangtua agar tidak mengulanginya. Itu cinta.

Jika kita membiarkan hal negatif, itu tidak bisa diartikan sebagai cinta. Cinta adalah anugerah dan keniscayaan. Memaknai cinta harus berpikir luas dan lapang, tak bisa dimaknai hanya karena kalimat "aku mencintaimu".

Apakah doa bisa diartikan cinta? Jelas. Bagaimana dengan doa yang buruk? Itu juga cinta. Ada yang cinta sesama dengan mendoakan yang baik, dan ada cinta diri sendiri yang egois dengan mendoakan hal buruk. Sekali lagi, cinta itu luas.

Bertanya kabar, mengingatkan hal baik, mendengarkan curhat, semua adalah cinta. Cinta adalah nurani manusia paling mendasar dan paling inti dari semua perasaan. Dengan kata lain, baik buruk seseorang adalah karena cinta.

Banyak cinta. Cinta dunia, cinta diri sendiri, cinta harta, cinta tahta, cinta jabatan, cinta agama, cinta wanita, cinta pria, dan masih banyak cinta lainnya.

Lantas, apakah gila dan cinta itu sama? Bisa sama, bisa juga tidak. Dalam cinta, hati dan pikiran bergandengan. Dalam gila, nafsu dan pikiran bergejolak bagai lahar.

Banyak cara mengungkapkan cinta. Tak perlu secara lugas, tapi berisi tentang makna cinta. Tapi, menyatakan cinta takkan pernah sulit jika tidak dibarengi rasa takut. Dan, takut itu adalah penolakan dan teracuhkan. Tapi, cinta tak mengenal itu, cinta tak pernah mutlak dan kita harus berhati-hati akan hal itu.

Menanggapi cinta tak harus dengan ucapan. Tak harus penolakan dan tak harus mengacuhkan. Cinta tak mengenal bentuk, jarak, dan tingkatan, cinta adalah kita. Kitalah yang menentukan seperti apa makna cinta itu sebenarnya.

Saling mencintai tak harus dalam pijakan yang sama. Langit selalu menemukan waktu untuk merasakan cinta, bulan selalu mendengar segala cinta. Jarak bukanlah cinta, cinta adalah jagat raya, bumi ini adalah cinta. Tempat kita membawa jiwa semakin dekat tanpa harus berkeringat.

Bertepuk sebelah tangan bukanlah cinta. Cinta tak mengenal tangan atau bahkan tepuk tangan. Cinta selalu menggenggam, menggenggam hati, pikiran, dan jiwa. Di manapun kita berada, akan ada cinta. 

Cinta tak mengenal segala bentuk fisik di dunia. Cinta adalah bagaimana kau selalu berdegup kencang ketika memikirkannya. Darahmu mengalir cepat dan suhumu bertambah panas. Cinta, selalu menghangatkan tanpa mengenal kilometer.

Dan terakhir, aku mencintaimu dengan segenap cara yang kutempuh. Aku mencintaimu dengan segala langkah jalan hidupku. Aku mencintaimu meski Tuhan tak berkenan menatapkan mataku dan matamu. Aku mencintaimu tanpa terbesit rasa ingin berbalik.

Aku mencintaimu melalui berbagai jalur. Aki mencintaimu sekarang hingga Tuhan tak lagi menginginknannya. 

Aku mencintaimu karena Tuhan memberikan cintaku padamu.