Aku sempat berpikir untuk pergi ke masa lalu dan merubah segala alur ceritaku. Berkhayal boleh, asal tidak berlebihan dan malah membuat mental stres. Dan, itulah khayalan terbesarku, tapi bukan berarti aku tidak suka dengan diriku yang sekarang.

Aku hanya berpikir bagaimana jika aku bukan aku yang sekarang? Beberapa penyesalan pernah aku rasakan selama kurang lebih hidup 20 tahun di dunia. Dan, puluhan kali aku berpikir untuk kembali ke masa lalu agar tidak menemui penyesalan itu.

Tapi, jika aku bukan aku yang sekarang, rasanya penyesalanku akan lebih besar. Mungkin aku tidak akan mengenalnya, juga tidak akan mengenal duniaku yang penuh dinamika dan tantangan saat ini. Mungkin aku akan tetap menjadi Afsal yang manja jika Allah tidak memanggil bapakku saat itu.

Ya, aku bersyukur menjadi diriku hari ini. Jika aku bukan aku yang sekarang, mungkin tidak akan ada blog ini. Mungkin aku tidak akan berkelana menyusuri daerah ke daerah demi mengejar informasi, aku tidak akan jadi wartawan. Mungkin malah jadi pemusik yang gagal.

Mungkin aku tidak akan merasakan perasaan ini. Walau aku tidak terlalu mendalaminya. Kita tidak bisa memperbaiki masa lalu, tapi kita hanya bisa mengubah akhir dari hidup kita dengan merubah masa kini.

Penyesalan dan penderitaan di masa yang akan datang akan menyambutku dan aku harus siap untuk yang paling buruk. Rasa takut akan kehilangan cinta, harta, dan nyawa selalu menghantui. Tapi, kedamaian selalu Allah beri.

Aku belum jadi orang baik. Mungkin suatu saat sepatuku akan membawaku pada jalan yang berbeda meski tantangannya lebih berat. Aku hanya bisa menikmati ini. Seperti dalam lagu GIGI yang berjudul Dunia (1995).

Jika aku bukan aku yang sekarang, aku tak akan pernah merasa se-bersyukur ini. Aku bersyukur dengan segala nikmat —cinta, harta, nyawa, dan lain sebagainya. Terima kasih. Semoga kita lekas bertemu.