Betapa lemahnya aku yang bersembunyi di balik kata "Tidak apa-apa". Sifat yang tak pernah hilang, sejak kecil. Merasa paling kuat dan tahan banting. Aku tak mau terlihat lemah oleh orang lain.

Tapi, di balik itu semua aku adalah orang lemah yang tak pernah bisa mengatakan bahwa aku tidak baik-baik saja. Gengsi? Bisa jadi. Tapi, mungkin aku lebih senang menyebutnya, tidak mau repot. Makanya aku sering berbicara sendiri.

Memang kayak orang depresi, tapi berbicara sendiri adalah treatment menyenangkan. Kadang aku bisa membuat tokoh lain menggunakan bagian lain dari otakku. Rumit kalau dijelaskan. Yang pasti, aku bisa membuat semua bagian otakku berinteraksi sama lain dan menciptakan bayangan percakapan dari banyak orang.

Kalau dipikir-pikir, aneh memang. Tapi, dengan begitu aku selalu bisa mengatakan bahwa aku tidak apa-apa. Walau setiap harinya, beban, masalah, pasti datang. Berbicara dengan otak sendiri adalah hal yang seru.

Sifat kreatifku muncul dari situ juga, entah kenapa akhirnya otakku selalu berputar sangat cepat. Mimpi di setiap tidur bisa sangat mudah dikendalikan. Ya, unik memang.

Tapi, dari itu semua aku jadi punya alasan untuk tetap mengatakan bahwa aku tidak apa-apa, I'm okay. Meski aku sangat ingin didengarkan, setidaknya aku harus belajar mendengarkan dulu. Mulai dari mendengarkan diri sendiri