Siapa yang belum pernah berkunjung ke warung Internet atau warnet? Beberapa dari kita ada yang datang ke warnet untuk sekadar browsing atau pun bermain game, tapi itu dulu. Sekarang? Sudah mulai lenyap dan tertinggal. 

Namun, siapa sangka warnet memiliki era game online yang gemilang jauh sebelum zaman game online mobile bermunculan. Ada beberapa alasan yang dapat saya utarakan mengenai era game online di warnet ini. 

Game Online dengan Teamwork yang Solid

Game online mobile pun memiliki sistem teamwork. Namun, tak jarang ada pemain yang begitu individualis. Bahkan, tidak seseru bermain game online di warnet. 

Dulu kita mengenal Couter Strike dan Point Blank. Di warnet dua game itu pernah merajai industri per-warnet-an di Indonesia. Setiap warnet memiliki tim masing-masing yang punya ciri khas, nama, bahkan logo yang menarik. 

Hal ini tidak dimiliki era game online mobile. Di zaman warnet, semua pemain bertemu dalam satu tempat yang menjadi markas. Berdiskusi soal keperluan anggota dan lain sebagainya. 

Hal itu memang bisa dilakukan di era mobile, tapi tidak senyaman dilakukan di warnet, sambil menghisap sebatang rokok dan minum teh gelas ditemani lagu Dear God dari Avenged Sevenfold. Ayo, bernostalgia berapa jam kamu habiskan waktu di warnet? 

Adu Warnet Jadi Agenda Sakral

Di era mobile kita mengenal adu klan. Jauh di zaman warnet, sistem itu sudah digunakan di Point Blank dan Lost Saga. Tapi, tentunya ada satu hal yang tidak dimiliki era mobile, yaitu adu warnet. 

Saat saya SMP, adu warnet bisa menjadi ajang yang sakral. Selain soal skill, harga diri pun dipertaruhkan dalam pertandingan yang sengit. Tak jarang adu warnet malah jadi perpecahan antar pelanggan warnet. 

Dulu, tim warnet saya pernah menang melawan warnet kampung sebelah. Anak kampung sebelah merasa kami curang, akhirnya mereka menggeruduk warnet yang kami tempat. Bagusnya situasi yang berpotensi baku hantam itu bisa dilerai oleh sang operator warnet. 

Main Game Dengan Jiwa Sosial Tinggi

Hal ini juga tidak dimiliki era mobile. Mereka cenderung fokus pada satu layar smartphone. Kecuali bermain di satu tempat secara bersamaan alias mabar. Memang seru, tapi tidak sebaik era warnet. 

Di warnet, ketika bermain kita bisa berkomunikasi langsung dengan rekan setim. Dengan melihat wajahnya, mendengar suaranya secara langsung, sehingga tidak memunculkan salah paham antar tim dan membuatnya saling adu bacot. 

Tak ada kolom chat, kecuali jika sedang adu warnet. Akan selalu ada hubungan harmonis jika mabar di warnet. Hal itu yang sangat langka. Para pemain game online mobile tidak akan pernah merasakan suasana seperti itu, paling cuma mirip-mirip. 

Tak Ada Cemburu Soal Gadget

Di era mobile para pemain game selalu disibukan dengan perdebatan gadget kentang atau mahal. Hal itu malah menjadi gerbang diskriminasi yang memicu perpecahan dan makar antar pemain game online. 

Di era warnet, tak ada kecemburuan soal gadget yang dipakai. Semua memakai komputer yang sama, disediakan oleh pemilik warnet dengan kualitas yang sama. Paling kalau ada keluhan, hanya seputar mouse dan keyboard. 

Selain itu, diskriminasi soal gadget kentang ini malah membuat pemain yang memiliki gadget di bawah rata-rata susah untuk bermain. Malah dengan mengorbankan harga dirinya, ia hanya bisa menonton pertandingan dengan rasa haus ingin bermain. 

Tak ada hal seperti itu di warnet, saya pastikan semuanya setara dan berada di kondisi yang sama. Dengan demikian, skill bermain lah yang harus benar-benar membuktikan soal kelaikannya menjadi gamers sejati. 

Bagaimana? Sudah rindu era warnet dengan segala kehangatan dan keseruannya? Tak jarang para pemain game online marah-marah kalau ada pengguna lain membuka YouTube yang konon katanya bikin sinyal lemot. 

Di balik segala keterbatasannya, warnet kan selalu menjadi kenangan terindah di benak para gamers jadul. Saya yakin, pembaca sekalian punya banyak cerita menarik ketika bermain di warnet daripada bermain di kafé dengan Wi-Fi gratis. Semuanya kalah dengan rokok magnum dan teh gelas atau kopikap.

Baca Juga: