Cianjur terkenal dengan tiga pilar budayanya; ngaos, mamaos, dan maenpo. Tapi, selama saya 20 tahun hidup di Cianjur, saya jarang melihat perhelatan budaya yang rutin dan penuh dengan antusiasme. Sebagai warga Cianjur, saya marah melalui tulisan ini.

Tiga pilar budaya Cianjur biasanya selalu diajarkan dan dibiasakan di pendidikan tingkat SD. Bahkan, hingga SMA. Tapi, dari yang saya lihat di dunia nyata. Orang-orang hanya melestarikan budaya itu di ruang lingkup pendidikan saja. Ketika belajar, atau ketika sedang ada tugas praktik. Padahal, semua itu adalah pembiasaan agar budaya bisa terus dilestarikan. 

Meskipun, saya tidak bisa menyebut tiga pilar budaya di Cianjur ini mati, tetap saja meredup. Tak ada perhelatan akbar mengenai tiga pilar budaya selama saya hidup di Cianjur. Miris memang. Tapi, itulah kenyataannya. Dan, mungkin hanya budaya ngaos (membaca Alquran) yang masih ada hingga kini. Terutama di lingkungan pesantren. 

Di zaman yang serba canggih seperti ini, warga Cianjur pun ikut terkena efek globalisasi. Di Taman Kreatif Cianjur misalnya, saya lebih banyak melihat mereka menari lagu K-Pop ketimbang tari Sunda atau Jaipong. Dari sini saya sudah bisa menilai, tiga pilar budaya hanya ada di acara-acara tertentu. Padahal, yang namanya budaya harusnya bisa melekat di kehidupan masyarakat apapun situasinya. 

Tidak hanya itu, milenial yang ada di Cianjur kadang lebih suka menggunakan bahasa asing daripada bahasa daerah sendiri, Sunda. Kalau bahasa Indonesia masih sah-sah saja. Tapi, kebayang kalau mereka malah tidak bisa menggunakan bahasa Sunda sama sekali, tapi malah mahir berbahasa asing. Jika saya harus membandingkan, orang Jawa lebih cinta budaya dari pada orang Sunda. Kemana pun orang Jawa pasti ada saja kata yang menggunakan logat atau bahkan Bahasa Jawa itu sendiri. 


Salah satu dari tiga pilar budaya lainnya ialah, mamaos (tembang Cianjur). Walaupun saya penggemar musik rock sejati, tapi saya sering mendengarkan lagu Sunda. Seperti pupuh dan lain sebagainya. Bahkan, saya hafal betul lagu-lagu itu. Tapi, saya tidak habis pikir warga Cianjur itu sendiri tidak hafal atau bahkan tidak menyukainya. Ketika ada perhelatan seni, penonton muda malah lebih senang menonton musik modern. Minimal, minimal sebagai warga Cianjur kita harus mengapresiasi budaya sendiri. 

Padahal jika milenial mampu berkreasi dengan positif. Musik Sunda bisa lebih fresh dan keren. Sayangnya, kaum muda tidak seperti itu. Kebanyakan lagu Sunda hanya disukai kelompok-kelompok yang sudah berumur atau yang sudah tua. Kalau generasi tua sudah meninggal, siapa yang mau melestarikan? Sedih aku, tuh. 

Selanjutnya, ada budaya maenpo (silat). Budaya ini pun saya rasa masih ada. Peminatnya banyak, namun kurang muncul. Entah kenapa yang ramai di Cianjur hanya karate. Padahal banyak aliran silat Cianjur yang sangat keren dan mampu bersaing. Jika manajemen budaya di Cianjur sudah sangat baik, bukan tidak mungkin pada tahun-tahun berikutnya Cianjur bisa menjadi kota budaya. Sayangnya, itu hanya mimpi gila saya. 

Ada yang lebih miris dari hal-hal yang sudah saya terangkat di atas. Yaitu, banyak pemimpin di Cianjur yang membicarakan soal pelestarian budaya, bahkan dari tahun ke tahun. Tapi, tidak pernah terealisasikan. Terlebih di masa Pilkada ini, mungkin para calon pemimpin hanya membawa tiga pilar budaya Cianjur sebagai alat untuk menggaet suara saja. Memberi gombalan manis pada pegiat seni, tapi meninggalkannya setelah naik tahta. 


Selain itu, entah kenapa saya selalu merasa Cianjur ini mulai kehilangan marwah sebagian kota santri. Meskipun pesantren di Cianjur sangat banyak, tapi konflik di Cianjur yang ada urusannya dengan agama tetap terjadi. Semuanya karena faham yang berbeda. Hanya karena perbedaan. Meski begitu, konflik itu di Cianjur tidak terlalu panas, hanya sebagian kecil. Tapi biasanya yang kecil itu banyak. 

Mengelola kebudayaan di suatu kabupaten memang bukan hal mudah. Tapi, jika kita belajar dari yang sudah-sudah, jangan sampai kita marah ketika budaya kita dicopet oleh tetangga. Bukan tidak mungkin budaya Cianjur dirampok oleh bangsa lain. Hanya karena warganya sendiri yang jarang membudayakannya.

Walau begitu, saya yakin, tiga pilar budaya Cianjur akan kembali menemui kekuasaannya. Cianjur akan kembali pada marwahnya. Siapa penentunya? Kita semua. Meski begitu, pemimpin Cianjur harusnya sadar juga, budaya Cianjur sedang mengalami krisis yang mematikan. Krisis yang sudah mulai masuk stadium empat. Krisis yang bisa saja hilang, bisa saja mati, yang bahkan kini mati suri. Tiga pilar budaya Cianjur selalu digombali, tapi tak pernah kembali lestari.