Sumpah Pemuda 2020, Sudah Hilang Makna

Sumpah Pemuda 2020, Sudah Hilang Makna


Pada 28 Oktober selalu diperingati dengan Hari Sumpah Pemuda, dan pada tahun 2020 ini peringatan itu hanya seremonial semata. Sudah hilang jiwa pemuda yang sangat cinta akan bangsanya.

Eits, tapi jangan protes dulu. Ini hanyalah opini dari sejumlah hal yang saya lihat selama ini. Selama 20 tahun hidup di dunia, saya melihat perubahan yang sangat pesat dari pemuda bangsa.

Dalam menyambut Hari Sumpah Pemuda 2020, saya akan sebut bahwa generasi muda di Indonesia sedang berada di ambang ketidakpastian. Terlebih bagi mereka yang masih berada di bangku sekolah.

Melihat perkembangan zaman yang begitu pesat, saya rasa Sumpah Pemuda 2020 hanya akan menjadi seremonial tahunan tanpa perubahan. Jika kita lihat tren yang ada di kalangan kaula muda, budaya negara asing seolah menjadi sebuah kebutuhan jiwa seni yang primer.

Jika dibandingkan dengan budaya sendiri, budaya asing lebih sering sielu-elukan. Ambil contoh soal K-Pop. Budaya Korea Selatan selalu ramai dibicarakan, selalu ramai ketika ada berita terbaru. Sementara budaya sendiri? Entahlah.


Sumpah Pemuda di tahun 2020 ini akan menjadi cerminan bahwa generasi muda sudah tiada guna. Padahal, di masa yang akan datang kawula muda adalah pemegang kendali di negara ini.

Hal ini dilihat dari apresiasi pemerintah terhadap karya-karya generasi muda. Banyak kerajinan, banyak karya seni lainnya yang diciptakan. Banyak! Tapi, tidak diapresiasi. Kecuali viral di media.

Membahas sumpah pemuda 2020, saya jadi ingat penggalian lirik lagi God Bless berjudul Setan Tertawa. Lagu itu seakan mengisahkan soal kebingungan muda-mudi dalam berkarya. Dalam menciptakan segala inovasi yang tidak lain dan tidak bukan demi bangsa sendiri.

Tapi, saya yakin pada 28 Oktober 2020 nanti, Sumpah Pemuda akan disebut sebagai hari perubahan. Menurut saya, itu hanya sebatas sambutan dalam upacara peringatan.

Nyatanya, tidak ada perkembangan signifikan.
Pemuda semakin menggebu, semangat, dalam segala kemajuan. Pemerintah? Nihil apresiasi dan dedikasi atas Sega hal yang dilakukan generasi muda. Malah, milenial hanya nama yang bisa dijual selama kampanye.

Milenial Jadi Dagangan Kampanye


Terlebih di masa kampanye Pilkada 2020, Sumpah Pemuda pasti menjadi ajang jualan nama milenial. Semua Paslon menjual nama milenial, menarik milenial untuk memilih. Tapi, hanya sebatas kampanye dan ajakan.

Milenial bukan dagangan! Milenial adalah amunisi untuk Indonesia di masa depan. Seharusnya itu disadari sejak bertahan lalu. Bahwa generasi muda yang terpelihara adalah implementasi dari sumpah pemuda itu sendiri, apakah di tahun 2020 akan demikian? Belum tentu.


Menurut sejarah, pemuda selalu disebut sebagai tonggak kemerdekaan. Tapi, saat ini kemerdekaan pemuda sedang diernggut. Sebut saja pembatasan unjuk rasa bagi mahasiswa, sumpah pemuda di tahun 2020, benar-benar hilang makna.

Saya berharap di hari Sumpah Pemuda 2020 pada 28 Oktober nanti. Bisa menjadi hari perubahan, menjadi hari bahwa pemuda kembali menjadi tonggak kemerdekaan. Bukan ditebas kemerdekaannya.

Comments

Popular Posts