Kalau berbicara soal seks bebas pasti akan ada anak muda di dalamnya. Ya, saya juga belum tahu sejak kapan anak muda identik dengan seks bebas. Tapi, hal itu bisa menjadi reminder bahwa anak muda Indonesia mulai bobrok.

Perjalanan seks bebas di Indonesia sangat panjang, banyak, bikin ruwet sekaligus sakit kepala yang berat. Kalau kita mengetikkan kata tersebut di kolom pencarian Google, maka akan ada banyak kasus yang muncul di mata kita. 

Dari situ sudah bisa menjadi acuan, kasus pelecehan, pemerkosaan, dan lain sebagainya sangat rentan di kalangan anak muda. Dan, ternyata penyebabnya bisa dari seks bebas. Pertanyaannya, seks bebas itu apa dan dari mana munculnnya? 

Apa itu seks bebas? 

Seks bebas adalah kegiatan berhubungan badan atau bersetubuh secara merdeka. Anjay, merdeka. Soalnya, pelaku bebas memilih pasangan, bebas memilih tempat. Sangat merdeka sekali. 

Ya, itulah pengertiannya (menurut saya). Dan, tentunya perilaku tersebut sangat menyimpang dari norma dan agama. Tapi, kok marak banget, ya? Apakah ada dorongan gaib dalam perilaku tersebut? Bisa jadi iya. 

Perilaku bersetubuh secara bebas bisa membahayakan terhadap tubuh. Selain bikin putus sekolah dan perempuan hamil, kita juga bisa kena marah mama dan papa. Tapi, yang paling parah adalah melanggar norma dan agama. 

Saya belum tahu apakah seks bebas bisa dihukum atau tidak? Karena saya yakin perilaku itu dilakukan dengan sama-sama mau. Mungkin pembaca ada yang mau mencoba menjawabnya?

Bahkan, selain jadi amukan keluarga, pelaku seks bebas juga bisa jadi amukan warga kalau nggak pinter mainnya. Dan, kasus seperti itu berkembang pesat seiring informasi teknologi ikut berkembang juga. 

Seks Bebas Anak Muda Sekarang

Saya juga tidak tahu alasan anak muda zaman sekarang 'banyak banget' yang seks bebas. Tapi, saya akan menjelaskan beberapa hal sesuai dengan pengalaman saya selama 20 tahun hidup di dunia. 

Saya kira, sex education bagi para remaja atau anak muda zaman sekarang masih kurang. Sebagian dari mereka malah secara terang-terangan menonton video porno. Hal ini karena internet digunakan terlalu bebas. 

Kita memang tidak bisa menghentikan Internet seperti Kim Jong Un, tapi kita bisa membatasi efek buruknya. Sosialisasi dan didikan keluarga bagi remaja sangat diperlukan untuk menangani hal ini. 

Selain itu, seks bebas bagi remaja juga disebabkan karena tiruan dan rayuan maut. Bukan dari lawan jenis, tapi dari teman sendiri. Ini yang disebut dengan faktor pergaulan. 

Menanamkan sifat pilih-pilih teman pada remaja memang susah. Tapi, hal itu sangat diperlukan dalam menangani efek eksternal yang buruk. Dan, remaja yang dangkal biasanya mengatasnamakan solidaritas dan menyingkirkan kebaikan pribadi. 

Sex education di lingkungan keluarga, khususnya di Indonesia terkadang sangat canggung. Tapi, hal itu masih bisa dilakukan dengan menjaga keharmonisan keluarga, serta menggelar diskusi ringan di ruang tamu. Euh, adem! 

Selain itu, Kita gak bisa menghentikan budaya pacaran sama seperti menyingkirkan budaya tradisional. Walau pacaran bisa jadi gerbang neraka untuk melakukan seks bebas. Menurut saya, ini adalah faktor terbesar yang sangat sulit ditangani. 

Sifat remaja yang labil akan mudah terpengaruh dengan lingkungan. Maka, pendidikan karakter bagi remaja jelas sangat diperlukan. Tapi, sekarang malah ruwet, ruwet, ruwet. 

Sekolah Tidak Berpengaruh

Jelas! Sekolah sangat tidak berpengaruh terhadap pengentasan seks bebas bagi remaja kalau sistemnya gitu-gitu terus. Harus ada pengembangan terutama di bidang moral dan karakter. 

Karakter anak muda Indonesia itu gak punya ciri khas yang bagus sampai sekarang. Tujuan utama pelajar yang notabene masih remaja bukan ilmu. Tapi, nilai! 

Nilai yang merupakan angka-angka kumulatif dari setiap mata pelajaran adalah tujuan utama. Jadi, sekolah itu cuma buat ngejar skor. Bukan untuk menciptakan karakter. 

Menurutku, hal yang harus diubah dari sekolah di Indonesia bukan cuma soal nilai. Tapi, soal jam belajar, soal isi materi, dan soal ujiannya juga. Dan, di tengah pandemi gini malah makin ruwet. 

Seks Bebas pada remaja khususnya yang masih sekolah, bisa terjadi pada pelajar dari almamater mana pun. Mau itu sekolah unggulan, sekolah rendahan, sekolah buangan, bahkan pesantren. Gak percaya? Cari di google. 

Jadi, sudah jelas kan? Sekolah itu jelas gak ada pengaruhnya sama sekali. Selain faktor keluarga dan lingkungan, faktor pendidikan Indonesia juga harus dirubah total. 

Pelajar harusnya tidak mengejar targetan angka, kalau gitu sama aja kayak pegawai pabrik. Karakter dan moral, bisa diciptakan melalui experiment sosial. Dan, penilaian moral harus menjadi yang utama dari nilai apapun. 

Kalau cuma nilai pelajaran yang diunggulkan, di kursi DPR RI sana banyak orang yang kelewat pinter tapi kadang bikin susah rakyat sendiri. Toh, dari sini kita tahu, Indonesia nggak butuh orang pinter. Tapi, orang cerdas. 

Setiap tahun, kasus pelecehan dan pemerkosaan semakin marak. Bahkan, usia pelakunya semakin muda. Ini menandakan Indonesia tidak semakin maju, tapi semakin mundur! 

Tapi, kadang kasus pemerkosaan yang ada hanyalah kegiatan adu egoisme antar orang tua. Bisa jadi anak-anak mereka melakukan seks bebas. Tapi, salah satu dari pihak mereka ada yang nggak setuju, merasa dirugikan, akhirnya digugat. Bisa saja begitu.

Kesimpulan 

Dari pembahasan di atas, kita bisa tahu. Ada tiga faktor yang memengaruhi meningkatnya seks bebas bagi remaja, yaitu keluarga, lingkungan, dan sekolah. Saya rasa tiga hal itu harus dibenahi, mulai dari detik ini. 

Indonesia perlu pembenahan di bidang pendidikan. Sebagai instansi yang mencerdaskan bangsa, sudah seharusnya memiliki inovasi yang mengikuti berkembangnya teknologi. Bukan untuk menggunakan teknologi, tapi mengajarkan cara menggunakannya dengan benar. 

Anak SD saja bisa dengan sendirinya pakai Android. Tapi, mereka tidak bisa belajar cara menggunakannya dengan positif secara otodidak. Caranya, ya bimbingan keluarga. 

Seks Bebas terutama di kalangan remaja, adalah tanda bahwa pendidikan karakter dan moral di Indonesia telah gagal. Sudah sangat ruwet dan gak jelas arahnya.

Dulu, kabinet kerja ingin pendidikan karakter digencarkan. Sangat bagus, tapi implementasinya tidak positif. Kita hanya dicekoki slogan "kerja, kerja, kerja". Tapi, tanpa sadar kita malah dikibuli, maka Hadir lah slogan "ngerjain, ngerjain, ngerjain."