Bagaimana dan mengapa seorang guru harus memahami perkembangan dan pertumbuhan siswa? Jawabannya sederhana, karena guru adalah seorang pembimbing dan orang tua kedua di sekolah. Jika, bukan guru yang memperhatikan, siapa lagi?

Namun, terkadang guru selalu ruwet dengan administrasi sekolah yang sangat menumpuk dan berbelit-belit. Memang administrasi di era sekarang menggunakan teknologi, tapi dalam implementasinya belum efektif. Birokrasi terlalu panjang, dan lain sebagainya.

Kalau guru terlalu sibuk terhadap administrasi, kadang pikirannya jadi kacau balau, terkena badai besar, dan menjadi emosian. Akhirnya, siswanya jadi samsak pelampiasan ketika sedang marah. Walaupun tidak semua guru seperti itu. Tapi, guru juga manusia, punya rasa, punya hati. Jangan samakan dengan gergaji besi.

Baca Juga: Kekerasan Terhadap Wartawan: Ada Rilis Kami Diundang, Ada Demo Kami Ditendang

Ini adalah PR besar selama beberapa tahun belakangan. Administrasi seorang guru yang malah bebannya lebih berat daripada mengajar. Apa bisa dipermudah? Bisa, dong. Cuma, apakah pemerintah mau mengubahnya atau tidak. 

Mengapa Guru Harus Memahami Pertumbuhan dan Perkembangan Siswa?

Ketika siswa sedang mengalami masalah di sekolah, guru yang bertanggung jawab memberikan solusi dan pengertian. Jangan sampai siswa itu curhat ke pesugihan sampai minta pelet asmara karena ditolak cinta.

Siswa yang notabene berada di usia muda dan sangat labil, harus diperhatikan secara detil. Namun, tidak boleh terlalu menggurui, khusus anak SMA. Karena siswa SMA yang pemikirannya sudah mulai meluas, terkadang bisa salah paham jika terlalu menggurui. Toh, guru bukan orang tua kandung. Walaupun tugas guru ya menggurui.

Berbeda ketika sedang mengajar, guru harus memperhatikan perkembangan berpikir sampai perilaku siswanya. Kalau mengajar, tinggal ngasih materi, tugas, kasih nilai. Tapi, secara moralitas, hal itu berbeda. Tidak bisa diukur oleh nilai.

Maka, jika ada pertanyaan mengapa guru harus memahami pertumbuhan dan perkembangan siswa? Perlu banget. Dan, guru harus punya dasar dalam mendidik siswa atau anak yang flexible. Jadi kalau kamu punya istri seorang guru, kayaknya beruntung.

Bagaimana guru memahami perkembangan dan pertumbuhan siswa? 

Stigma guru BK yang terkadang diasumsikan sebagai ruang pesakitan harus dihapus. Jika susah, BK harus berganti nama. Jangan Bimbingan konseling, ganti dengan Ruang Curhat Siswa atau RCS. Kayaknya keren. 

Karena stigma BK sangat kuat dengan hal negatif. Seperti tertangkap basah kabur dari sekolah, merokok, dan lain sebagainya. Hal itu benar-benar harus disiasati. 

Jika stigma BK berubah, maka siswa bisa leluasa dan santai untuk mengutarakan isi hatinya pada guru. Dengan demikian, guru pun bisa memantau perkembangan dan pertumbuhan siswa dengan baik. Kuncinya adalah komunikasi yang nyaman. 

Baca Juga: Pilkada di Tengah Covid-19, Perlukah Ditunda?

Kebayang, jika komunikasi antara guru dan siswa seperti bos dan bawahan. Pasti nggak akan nyaman. Maka dari itu, perlu ada penyesuaian khusus mengingat teknologi semakin hari semakin canggih, membuat pencampuran budaya dan penyampaian informasi dari berbagai sumber semakin cepat. Termasuk hoax.

Selain mendidik, guru harus menjadi sosok teman bagi pelajar. Karena, biasanya siswa sangat nyaman ketika curhat dengan teman sebayanya. Maka dalam situasi tertentu, guru harus menempatkan diri sebagai teman. 

Makanya saya selalu memberi respect kepada guru yang begitu dekat dengan siswa, tapi tetap objektif dalam pembelajaran. Saya kira sampai situ dulu, terima kasih.