Memboikot Prancis Adalah Perlawanan Umat Islam


Presiden Prancis, Emmanuel Macron

Baru-baru ini sejumlah negara Islam memboikot Prancis atas ucapan sang presiden, Emannuel Macron. Tindakan pemboikotan itu merupakan perlawanan yang sangat nyata dari umat muslim di seluruh dunia. Sebab, ucapan Emannuel Macron dinilai telah menyakiti hati para muslimin.

"Ada kelompok radikal Islam, sebuah organisasi yang mempunyai metode untuk menentang hukum Republik dan menciptakan masyarakat secara paralel untuk membangun nilai-nilai yang lain," kata Macron saat itu.

Bagi orang dengan pemahaman yang luas, kalimat itu tentu menyudutkan umat Islam. Bahkan, sampai Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan geram dan menyebut bahwa Macron harus menjalani tes mental. Saya pun termasuk orang yang geram terhadap hal ini.

Saya tidak mengerti, ketika seseorang beragama Islam membuat sebuah kasus atau masalah, agamanya pun ikut dibawa-bawa. Tapi, kenapa ketika non-islam yang melakukannya, agamanya tidak digubris sama sekali? Menurut saya, pemahaman-pemahaman itu yang membuat stigma buruk pada umat Islam.

Kasus membuat kartun yang menghina Nabi Muhammad Saw memang salah, membunuh juga salah. Tapi, jangan salahkan agama dari kesalahan individual. Itu yang ada di pikiran saya selama ini. Seperti kasus bom yang beberapa kali terjadi di dunia. Ketika pelakunya umat Islam, seolah semua umat Islam berperilaku demikian.

Baca Juga: Sumpah Pemuda 2020, Sudah Hilang Makna

Selain itu, salah seorang selebritis asal Indonesia, Arie Untung pun ikut mengecam ucapan yang disampaikan Macron. Ini adalah kemarahan besar umat Islam terhadap Prancis.

Kata "Krisis" yang ia sebut terhadap umat muslim adalah krisis terhadap pemikirannya sendiri. Stigma umat Islam merupakan teroris adalah krisis terhadap pemikiran dan pemahaman manusia. Agama tidak bisa disalahkan, karena manusia bergerak berdasarkan hasrat.

Kita tidak bisa mengotak-kotakan manusia berdasarkan agama ketika seorang penganutnya melakukan kesalahan. Itulah krisis yang terjadi saat ini. Sasarannya bukan cuma Islam, tapi semua kalangan.

Contoh, ketika kita menemukan ada polisi baik dan polisi yang licik. Buat beberapa orang yang sering melihat polisi licik kerap menganggap polisi yang lainnya juga licik. Itu bisa jadi benar, bisa jadi salah.

Segala hal yang belum tentu kebenarannya tidak bisa kita umbar dengan sekali 'jebret'. Perlu berbagai kajian dan telaah. Benar kata Erdogan, Macron harus menjalani tes mental.

Masa Depan Umat Muslim


Setelah kejadian ini, masa depan umat muslim semakin tidak bisa ditebak. Stigma buruk terhadap Islam semakin lama semakin gencar, terlebih di Eropa dan Amerika.

Tapi, hanya Allah yang bisa menentukan masa depan. Saya yakin, umat Islam bisa sangat maju ke depannya. Mengingat, semua ajaran yang ada di dalam Alquran dan Sunnah sangat-sangat baik walau tidak semua mematuhinya.

Baca Juga: Nyobain Kopi Janji Jiwa Terdekat di Cianjur

Saya harap, tidak ada lagi Presiden Macron yang kedua, ketiga, atau pun seterusnya. Jangan sampai hal ini terulang lagi.

Saya juga ingin ketika ada seseorang yang berbuat kesalahan, jangan salahkan agamanya. Tapi, salahkan saja orangnya. Karena tidak semua orang mematuhi ajaran agamanya. Agama apapun itu.

Salam damai.


Comments

Popular Posts