Kuliah Sambil Kerja Rasanya Seperti Anda Menjadi Iron Man


Seperti yang kita ketahui mahasiswa itu banyak jenisnya. Salah satu jenis mahasiswa terkuat ialah mahasiswa yang kuliah sambil bekerja atau berkuliah di kelas karyawan. Meski begitu, kuliah sambil bekerja tidak semata-mata bisa dilakukan begitu saja. Perlu kerja keras dan usaha yang kuat, tekad yang mantap, dan pemikiran yang revolusioner seperti Ir. Soekarno. 

Kebanyakan mahasiswa yang berkuliah sambil bekerja mampu mengaplikasikan pembelajaran yang ia dapat di dunia kerjanya. Meskipun, terkadang pekerjaan yang tengah dijalaninya 'murtad' dari jurusan kuliahnya. Tapi, hal itu bisa menjadi nilai tambah karena pengetahuan dan pengalaman mahasiswa bisa terus bertambah. 

Saya pun termasuk mahasiswa yang berkuliah sambil bekerja, sambil berorganisasi juga. Nah, kuat nggak, tuh? Sebenarnya, kuat nggak kuat karena terlalu banyak pekerjaan dan kegiatan malah membuat energi terkuras. Tapi, jika punya fisik dan mental seperti Iron Man, bukan tidak mungkin dapat menjalaninya dengan baik. 

Lantas, bagaimana kiat yang sangat tepat bagi mahasiswa yang kuliah sambil kerja? Caranya cuma satu; jangan males. Loh, kok cuma satu? Mau kerjaan yang kecil dan sedikit sekalipun kalau diri kita dipenuhi dengan bisikan-bisikan syaitan untuk rebahan, maka pekerjaan itu akan terbengkalai. Percayalah, wahai anak muda! 

Pertanyaan selanjutnya, bagaimana caranya agar tidak malas? Jawabannya cuma satu, punya motivasi. Perlu diketahui juga, motivasi itu bermacam-macam. Ada motivasi dari orang, cita-cita tertentu, bahkan dendam tersendiri. Mau apapun jenis motivasinya, pasti bisa mendorong untuk terus produktif dalam menajalani kegiatan. 

Jangan sampai ada yang bertanya, "bagaimana caranya biar punya motivasi?" Kalau ada yang nanya kayak gitu, sudah jelas hidupnya harus dipertanyakan. Setiap orang pasti punya tujuan dan motivasi tertentu dalam menjalani hidup. Ada yang kerja keras biar bisa dapat IPK tertinggi, atau bisa menggaet cewek tercantik sekampus.

Kuliah Sambil Kerja Harus Fokus

Tapi, hal yang terpenting adalah fokus. Mahasiswa yang berkuliah sambil bekerja itu harus fokus. Jangan sampai dikit-dikit nongkrong, dikit-dikit kongkow. Sebab, mahasiswa yang kuliah sambil kerja mau tak mau akan terus berpikir. Mikirin kerjaan, tugas, dan kehidupan pribadi. Tapi jangan cuma dipikirin, kalau gitu anak SD juga bisa. 

Dari berbagai cerita yang saya dapat dari teman-teman sekelas saya, mereka yang berkuliah sambil kerja biasanya berawal dari kegagalan. Berkuliah di kelas karyawan bukan tujuan utama. Biasanya kita-kita yang masuk kelas karyawan itu terjebak antara impian dan kenyataan.

Saya misalnya. Dulu, saya tidak lulus SNMPTN dan SBMPTN. Akhirnya, saya putus asa dan memilih bekerja sebagai wartawan. Tapi, dari kegagalan itu, banyak kesempatan yang akan datang dalam kehidupan kita. Seperti tawaran beasiswa atau tawaran kuliah kelas karyawan dengan harga terjang kau. 

Lalu, apakah mahasiswa kelas karyawan itu memiliki nilai yang rendah dari mahasiswa reguler? Tidak! Itu salah besar! Mereka yang berkuliah sambil bekerja, baik di kelas karyawan atau pun reguler adalah Iron Man di dunia nyata. Mereka berjuang dengan keringat yang setiap hari diperas untuk kehidupan dan biaya kuliah. Itulah yang menjadikannya kuat. 

Namun, bukan berarti mahasiswa yang tidak bekerja pun dianggap rendah. Toh, sama-sama kuliah. Perbedaannya hanya tidak bekerja dan biasanya mengandalkan uang orang tua. Walaupun demikian, mahasiswa reguler memiliki keunggulan tersendiri. 

Kuliah sambil kerja juga punya kelemahan. Mahasiswa kadang harus mengorbankan absen untuk bekerja, atau rela potong gaji agar bisa ikut UTS dan UAS. Di balik impian yang besar, kadang harus ada pengorbanan yang besar. Sok bijak banget gua! Tapi, itulah kenyataannya. 

Sekali lagi, bukan berarti siswa-siswi yang masih SMA harus kuliah sambil bekerja. Tetap harus sesuai dengan kesempatan dan keberuntungan, kok. Tapi, kenapa tidak dicoba? Jika memang kalian tidak ingin membebani orang tua. Karena memang biaya kuliah zaman sekarang sangat-sangat besar. 

Tantangan kuliah sambil kerja tidak berhenti sampai di situ. Dulu saya sempat punya guru Videografi, Kang Deden namanya. Dia sempat berkuliah di Institut Kesenian Jakarta atau IKJ. Tapi, karena banyak tawaran bekerja. Ia pun terlena, dan malah meninggalkan pendidikan. Bagusnya, ia kerap mendapat sukses besar menjadi kru bahkan sutradara FTV hingga film layar lebar. 

Hal itu memang pilihan hidup, tapi dari cerita guru saya itu, kita juga harus memastikan diri. Apakah ketika meninggalkan pendidikan kita akan sukses? Atau harus meninggalkan pekerjaan demi kuliah? Itu adalah tantangan bagi mahasiswa yang kuliah sambil kerja. Dilematis memang. Tapi, ironinya, kadang pendidikan yang lebih dominan untuk dikorbankan. 

Comments

Popular Posts