Verbal Bullying; Mulutmu, Harimaumu

Verbal Bullying itu apa, sih? Sebenarnya, saya juga tidak terlalu memahami. Tapi, seperti tagline yang saya buat, ini adalah #PendapatBebas. Walaupun pendapat, tetap saya menyertakan batas kewajaran atas pengetahuan saya.

Sebelumnya saya mau bercerita, sekitar jelang pukul 2 pagi, di hari saya menulis post ini, saya melihat sebuah status WhatsApp. Status itu dibuat oleh salah seorang teman saya yang tak bisa saya sebutkan namanya karena tidak mengantongi izin. Tapi, saya ambil intisari dari curahan hatinya itu yang menurut saya menarik. 

Teman saya itu disebutnya sebagai anak broken home. Skip saja bagian itu. Tapi, bagian menariknya adalah, dia mengeluhkan ucapan orang yang memang menyakiti, namun dengan niat bercanda. Teman saya menyebut, kalau dia marah atau protes atas ucapan itu, maka akan disebut 'baperan'.

Ini menarik, karena dari kisahnya, ucapan seseorang yang dapat menyakiti orang lain sudah masuk dalam kekerasan verbal atau verbal Bullying. Lalu, untuk menutupi kesalahannya, pelaku verbal Bullying berdalih dengan alasan bercanda. Dan, untuk menghindari protes, pelaku menyebut sasarannya 'baperan'. 

Hal itu klasik, sangat klasik. Terlebih beberapa kasus yang sempat saya temui di Cianjur terutama bullying ini berawal dari kekerasan verbal atau verbal Bullying. Maka sudah tidak aneh lagi jika kekerasan verbal ini menjadi hal yang masih belum terselesaikan di lingkungan masyarakat terlebih untuk kaum muda sebenarnya.

Kenapa Verbal Bullying Berbahaya? 


Kenapa bullying bisa berbahaya jika kita tidak memperhatikan apa yang kita ucapkan kepada orang lain. Karena kaulah itu menurut saya ada yang disengaja dan ada yang tidak disengaja. Bisa saja ya kita berniat untuk bercanda. Tapi kita malah menyakiti orang lain dan tidak sepatutnya juga kita berlari ke bawah itu bercanda dan menyebut lawan bicara kita baperan.

Apa bahayanya? Saya sempat membaca beberapa contoh kasus di internet karena berawal dari verbal Bullying ini. Bahkan ada beberapa korban yang bunuh diri. Atau jika dilakukan di sekolah maka korban ingin pindah sekolah atau ingin berhenti sekolah karena hal tersebut memang bisa berpengaruh terhadap pribadi seseorang.

Pepatah sempat mengatakan Mulutmu harimaumu. Menurut saya pepatah itu bisa terealisasi dari hal apa saja termasuk dalam hal berbicara atau bercanda dengan orang lain. Ketika seseorang mendapatkan kekerasan verbal rasanya itu sulit dihilangkan dibandingkan kekerasan fisik. Sama seperti sebuah Patah Hati.

Kadang, kita menganggap sepele ketika membaca atau mendengar kabar ada orang bunuh diri karena dihina, atau dicaci. Tapi, pada kenyataannya, verbal Bullying dapat menghancurkan kepercayaan diri lebih dalam daripada kekerasan fisik. Sebab, ucapan dapat menggiring opini orang-orang, berbeda dengan kekerasan fisik yang kerap menjadi bukti ketika ada kasus kekerasan. 

Menghindari Verbal Bullying


Sebagai seorang manusia, seharusnya kita bisa lebih bijak dalam berbicara. Kita tidak bisa menjustifikasi orang lain karena kesehariannya yang kelihatan. Kita tidak tahu latar belakang seseorang seperti apa. Bahkan, kita tidak tahu sifatnya. Maka, jangan menyamaratakan sifat orang lain dengan orang lainnya. Karena pasti berbeda. 

Dalam hidup bermasyarakat, seharusnya kita bisa lebih bijak dalam berkomunikasi. Ketika ngobrol dengan si A bagaimana, dan ketika ngobrol dengan si B bagaimana. Kita diberi otak untuk bijak menghadapi perbedaan. Karena jika kita tidak membedakan perlakuan dalam suatu hal yang tidak konkrit, maka akan terjadi ketimpangan. 

Namun, ada juga orang yang berdalih dengan mengatakan, "Gua emang gini orangnya" atau "Ya, kan gaya bicara gue kayak gini". Itu tidak sepenuhnya benar. Sebab, sebagai manusia, kita pasti pernah merasa sakit hati saat ngobrol santai dengan orang lain, baik karena bahasannya, nada bicaranya, dan lain sebagainya.

Kita semua punya ciri khas, tapi jadikan ciri khas itu sebagai hal yang positif. Dalam hidup bersosial, persepsi masyarakat pasti berbeda dalam memandang sesuatu. Maka dari itu, kita harus bisa menjadi orang yang plural sebisa mungkin. 

Demi menghindari verbal Bullying, kita harus memahami etika dan norma dalam berbicara. Di samping, kita harus memahami kondisi dan latar belakang seseorang. Sekali lagi, kita tidak bisa menjustifikasi orang hanya karena sesuatu yang kelihatan. 

Gerbang pembuka verbal Bullying biasanya adalah topik tentang perbandingan. Jangan bandingkan masalah si A dengan masalah si B. Karena pasti akan berbeda. 

Contoh, si A punya masalah keluarga yang membuat orang tuanya hampir bercerai. Tapi, si B malah membandingkannya dengan menyebut bahwa masalah si A belum apa-apa karena si B malah sudah broken home sedari kecil. 

Sekali lagi. Setiap masalah itu pasti beda. Perasaan orang lain pasti berbeda. Lebih baik mendengarkan dan menanggapi sesuai dengan kadarnya. Jadilah pendengar yang baik. 

Kesimpulan


Mulutmu harimaumu. Jangan sekali-kali, kita berbicara sembarangan terhadap lawan bicara. Menyakiti hati, lebih parah dari pada menyakiti fisik. 

Kita perlu menyadari hal ini dengan berpikir bahwa kita semua ini manusia. Kita tidak suka diperlakukan dengan buruk oleh orang lain. Begitu pun sebaliknya. 

Stop verbal Bullying. Kekerasan verbal, hanya gerbang menuju Bullying yang sebenarnya. Kita tak bisa menjustifikasi orang lain hanya karena hal yang terlihat oleh mata kita. Tanpa memahami dasar dan latar belakangnya.

Terima kasih telah membaca #PendapatBebas kali ini. Mohon komentarnya demi memperbaiki segala hal yang masih kurang. Mari sama-sama menyebarkan kebaikan. 

Comments

Popular Posts