Wartawan Cilik Meredup, Kemampuan Menulis Pelajar Hilang

Wartawan Cilik Meredup, Kemampuan Menulis Pelajar Hilang

Wartawan reporter cilik
Sejumlah pelajar sedang belajar menggunakan ponsel (Foto: Afsal Muhammad/cianjurtoday.com)
JURNALAFSAL — Pernahkah Anda mendengar istilah wartawan atau reporter cilik? Jika pernah, besar kemungkinan kita seumuran. Dulu, ketika masih duduk di bangku kelas 5 SD, sekitar tahun 2011 - 2012, ada materi menulis berita dengan cara wawancara ke pedagang sekitar sekolah.
Dari sanalah, saya mulai menyukai dunia menulis dan jurnalistik. Dulu, siswa-siswi berlomba membuat tulisan yang bagus. Dan, sebagian dari mereka memang pandai menulis.

Saya menulis berita pertama kali dengam cara meniru tulisan yang ada di buku pelajaran Bahasa Indonesia, tinggal mengubah data yang ada. Dari praktik seperti itu, saya mulai belajar struktur berita secara benar.

Baca juga: Tips Move On Agar Jauh Dari Mantan

Kembali ke topik, wartawan atau reporter cilik saat ini sudah mulai hilang. Meskipun di sebagian sekolah masih ada siswa-siswi yang gemar menulis. Tentunya dengan teknologi canggih seperti saat ini.

Dulu hasil wawancara harus ditulis tangan. Sekarang mudah, tinggal direkam menggunakan ponsel. Tinggal mengetik dengan ponsel. Bahkan, memotret pun dengan ponsel.

Seharusnya dengan teknologi yang serba mudah wartawan atau reporter cilik masihh eksis hingga kini. Mengingat banyak hoaks yang beredar karena cepatnya informasi dan masyarakat yang dengan mudah menerima informasi tanpa cek ulang.

Anak masa kini atau lebih sering disebut dengan milenial lebih tahu sisi hiburan dari teknologi ketimbang manfaat yang bisa mempermudah proses belajar.

Anak masa kini lebih senang mengetik di sosial media dari pada berbagai pandangan melalui blog. Padahal, dulu blog sangat terkenal di kalangan remaja. Bahkan, saya mulai membuat blog sejak kelas 6 SD.

Wartawan Cilik Mampu Menutup Budaya Malas Membaca


Budaya berkomentar lebih dulu dari pads membaca adalah kemalasan yang elegan yang sungguh tidak bisa diterima. Wartawan atau reporter cilik lah yang seharusnya bisa menutup budaya itu dengan menanamkan pemikiran kritis.

Baca juga: Tips Belajar Bahasa Inggris yang Nyaman Bagi Pemula

Sebab, sebenarnya hoaks itu ada karena masyarakat itu sendiri. Mereka terlalu mudah menerima dan membagikan informasi yang belum tentu keabsahannya. Bahkan, ada yang membaca hanya sebatas judul berita.

Ini tidak bisa diterima, anak masa kini harus diberi pengarahan dini soal teknologi agar bisa mengerti pemanfaatan dan penggunaan teknologi agar bisa membantu belajarnya. Kenalkan pada aplikasi belajar, bukan pada game.

Sungguh, saya seakan munafik menulis ini karena dulu juga saya seperti itu. Senang bermain game di ponsel daripada memanfaatakannya. Oleh karena itu, saya tak ingin budaya itu tetap berlanjut.

Hentikan dari sekarang, ubah dengan yang lebih baik seperti menggencarkan literasi. Sedari dini, dari diri sendiri. Sosialisasikan pelan-pelan. Masyarakat Indonesia boleh senang rebahan, tapi otaknya harus cerdas.

Comments

Popular Posts